Agussetiyanto’s Blog

  • 12:30:09 pm on Oktober 18, 2008 | 0
    Tag:,

    satu

    Kampung Dol

    Oleh : Agus Setiyanto

    Jika anda sering melewati jalan Iskandar Kelurahan Tengah Padang- terutama pada waktu sore hari, hampir dipastikan anda akan sering melihat anak-anak sedang atraksi – bermain musik Dol. Anak-anak usia bermain ini memang energik –lincah dan tak mengenal lelah dalam aktivitas kesehariannya. Mereka seperti “Jaelangkung” – datang tak diundang, pulang tak diantar.

    Pada awalnya, mereka ini sering datang secara bergelombang – bergerombol dan bermain apa saja di halaman rumah. Kadang bermain sepeda – kejar-kejaran – petak umpet – tokok babi (bentik), dan sebagainya. Tapi, entah kenapa, mereka kemudian mengembangkan diri – ke permainan lain, yaitu permainan sepak bola. Dengan luas halaman yang pas-pasan, dan mungkin terasa nyaman, mereka leluasa bermain hampir sepanjang hari.

    Sebagai tuan rumah dan sekaligus pemerhati budaya lokal, saya berpikir bahwa mereka perlu mendapatkan sentuhan – pendekatan budaya yang strategis agar potensi yang mereka miliki benar-benar terarah, sehingga mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan sumber daya manusia (SDM) serta sumber daya budaya (SDB).

    Saya jadi teringat dengan semakin mewabahnya istilah – label kampung-kampung seni di beberapa wilayah, seperti Kampung Seni Lerep, yang terletak di lereng gunung Ungaran Jawa Tengah yang telah digagas oleh Handoko sejak tahun 2006. Kampung Seni Nitiprayan (Bantul), Kampung Seni dan Wisata Cibolerang (Jawa Barat), Kampung Seni Banyuning (Buleleng, Bali), dan lain sebagainya.

    Kampung-kampung seni tersebut, tidak saja terlahir atas kesadaran budaya saja, tetapi juga memiliki daya jangkau ke depan (visioner) yang cemerlang dalam upaya mewujudkan pembangunan sumber daya mmanusia seutuhnya. Dan tentu saja ini terkait dengan konsep pembangunan kepariwisataan, khususnya wisata budaya. Setidaknya, kampung-kampung seni tersebut diharapkan mampu menjawab kecenderungan kebutuhan wisatawan yang ingin menikmati atraksi seni budaya setiap saat.

    Lalu bagaimana dengan “kampung seni” di Bengkulu itu sendiri ? mampukah Bengkulu mencetak kampung seni atau kantong seni sebagai sebuah jawaban dari salah satu kecenderungan kebutuhan wisatawan yang ingin menikmati atraksi seni setiap saat. Jika di Jawa Barat ada Kampung Saung Angklungnya Mang Ujo, di Jawa Timur (Ponorogo) ada Kampung Reog, lalu adakah peluang – potensi di Bengkulu tercetak Kampung Dol ?

    Secara potensial, Bengkulu seharusnya sudah memiliki perkampungan musik Dol, karena musik Dol itu sendiri masih menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bengkulu, khususnya masyarakat Kotanya. Disebut atau tidak disebut, musik Dol sudah menjadi ikon seni budaya Bengkulu. Bukankah musik Dol Bengkulu juga sudah go nasional – bahkan go internasional?. Sudah beberapa kali grup musik Dol baik yang pernah dilakukan oleh Sanggar Mayangsari pimpinan Sukri Ramzan, maupun grup musik Dol Anggrek Bulan pimpinan Khairil Tanjung melakukan lawatan ke luar propinsi hingga luar negeri. Kelompok musik dol Mayasari sudah pernah mentas di sejumlah event seperti Pasar Seni Ancol (2001), Festival Musik Tradisi Anak Se Indonesia di TIM Jakarta, Solo International Etnic Music Festival and Conference’ (SIEM FC-2007), dan Singapore Zapun Festival di Singapura belum lama ini. Bahkan kedua grup ini boleh dibilang sudah masuk langganan Jakarta pada event-event bergengsi.

    Namun sayangnya, hingga kini belum ada kantong-kantong seni khususnya musik Dol yang sudah siap setiap saat dalam menjawab kebutuhan wisatawan. Dengan kata lain, belum ada sanggar musik Dol yang melakukan atraksi seninya setiap hari – seperti yang dilakukan oleh sang angklungnya Mang Ujo yang memang sudah dikemas untuk kunjungan wisatawan setiap saat.

    Untuk mewujudkan Kampung Dol, setidaknya diperlukan sebuah gerakan budaya – kearifan budaya (local wisdom) yang musti ditunjang dengan kebijakan yang sinerjis baik secara horizontal maupun secara vertikal. Kebijakan vertikal bisa dimulai dari tingkat Pemkot (Walikota) lalu turun ke tingkat Kecamatan (Camat), lalu turun lagi ke tingkat Kelurahan ( Lurah), kemudian sampai ke tingkat RT (Pak RT). Jika di setiap RT ada komunitas musik Dol, maka itu berarti sudah menjadi sebuah penanda Kampung Dol. Dan tentu saja proses ketrampilan hidup (life-skill) akan muncul dengan sendirinya. Ide-ide kreatif tentang home industri yang berkaitan dengan musik Dol pun akan bermunculan. Smoga !

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: