Agussetiyanto’s Blog

  • 05:01:37 am on Oktober 19, 2008 | 0

    MELURUSKAN SEJARAH HUT KOTA BENGKULU

    HUT (hari jadi) kota Bengkulu yang konon sudah diseio-sekatokan oleh para winasis (ahlinya), yaitu pada tanggal 17, bulan Maret, tahun 1719. Masihkah bisa digugat kefaktualannya ? Dan jawabnya bisa possible, dan juga bisa impossible. Mengapa demikian ? Karena di dalamnya ada dimensi politis, dan dimensi kesejarahan yang keduanya sangat determinatif. Artinya, persoalan gugat-menggugat tentang masa lampau bisa terjadi kapan saja, sejauh sejarawan menemukan historical-sources (bukti-bukti sejarah) yang lebih faktual, dan selanjutnya harus didukung oleh historical-mindedness (kesadaran sejarah) dari pihak elite politiknya. Demikian sebaliknya.

    Secara historis, pengambilan putusan tahun 1719, bulan Maret, tanggal 17 sebagai hari jadi (HUT) kota Bengkulu itu sebenarnya tak akurat, bahkan cenderung direkayasa. Karena dasar yang dipakainya hanyalah dari sebuah sumber sekunder, yaitu sebagai berikut: … in March 1719 when the people revolted, stormed and burned the fort, and forced the British to flee in their ships first to Batavia, and later to India (John Bastin, 1965: xxiii). Tampaknya, peristiwa itulah yang dijadikan dasar sebagai hari jadi kota Bengkulu. Dan peristiwa tersebut dianggap sebagai peristiwa kebebasan bagi rakyat Bengkulu dari cengkraman kolonialisme dan imperialisme bangsa Asing, terutama Inggris. Oleh karena peristiwa tersebut tidak menunjukkan tanggalnya, lalu direkayasa. Akhirnya, dimufakati tanggal 17, sebagai tanggal yang dikeramatkan, dan dipakai sebagai peringatan HUT kota Bengkulu.

    Ibarat seorang pencinta barang antik yang salah pilih. Padahal di sekelilingnya masih ada yang lebih antik lagi. Dan ternyata, barang antik yang sudah dipajang itu, pada bagian strukturnya ada yang palsu atau sengaja dipalsukan, sehingga mengurangi nilai keantikannya, bahkan menjadi tidak antik lagi.

    Yang menjadi persoalan adalah : Benarkah kota Bengkulu itu baru lahir pada tahun 1719 ? Apakah sebelum tahun 1719 nama Bengkulu tidak pernah disebut-sebut atau dikenal orang ? Bagaimana dengan sebutan Bencoolen, dan Bangkahoeloenya ? Kalau pertanyaan itu terjawab secara akurat, maka hari jadi kota Bengkulu akan lebih tua lagi umurnya, dan lebih antik lagi. Paling tidak, sebelum tahun 1719, nama Bengkulu sudah disebut dan dikenal dalam sejarah. Misalnya, orang-orang Inggris yang datang ke Bengkulu sejak tahun 1685 sudah menyebutnya dengan nama Bencoolen (P. Wink: 1924). Bahkan jauh sebelumnya lagi, bukankah sudah ada hubungan antara Bengkulu dengan Banten ? Demikian juga masyarakat pribumi Bengkulu itu sendiri sudah cukup lama menyebut negerinya dengan nama Bangkahoeloe.

    Umumnya, yang sering dipakai sebagai pedoman penentuan hari jadinya sebuah kota itu adalah: dokumen-dokumen/arsip-arsip yang membuktikan adanya peristiwa awal penyebutan atau pengenalan dari nama kota itu. Misalnya, hari jadi kota Jakarta, hari jadi kota Semarang, hari jadi kota Kudus, dan lain lain.

    Oleh karenanya, HUT kota Bengkulu yang telah diseio-sekatokan pada 17 Maret 1719, berpeluang untuk ditarik mundur jauh kebelakang lagi, hingga usia keantikannyapun lebih tua lagi. Dan penarikan mundur tersebut harus didukung historical-sources, dan historical-mindedness, serta political will para mullahnya (elite politiknya).

    Peristiwa Attact Fort Marlborough (1719).

    Jauh sebelum peristiwa penyerbuan rakyat Bengkulu ke Fort Marlborough pada tanggal 23 Maret 1719, ketegangan sosial telah terjadi antara para penguasa pribumi Bengkulu, khususnya rakyat Selebar. Ketegangan hubungan antara pihak Inggris dengan Pangeran Ingallo (Jenggalu?) – alias Pangeran Nata Diradja penguasa dari Selebar, berawal dari hubungan kontrak – perjanjian dagang. Pihak Inggris tidak senang bahkan merasa dirugikan karena Pangeran Selebar masih menjalin hubungan dagang dengan pihak Belanda. Disinyalir, rakyat Selebar serta anak keturunannya Pangeran Nata Diradja menaruh dendam atas kematian Pangeran Selebar yang diduga dibunuh oleh Inggris di Fort York pada tanggal 4 Nopember 1710.

    Puncaknya ketegangannya, pada malam hari tanggal 23 Maret 1719, Fort Marlborough diserbu sekitar 80 orang yang sebagian besar diperkirakan dari suku Lembak dan Selebar – yang mengakibatkan orang-orang Inggris melarikan diri ke Batavia dan Madras. Tokoh yang diduga kuat sebagai pemimpin penyerbuan Fort Marlborough itu antara lain : Pangeran Mangkuradja dari Sungai Lemau, Pangeran Intan Ali dari Selebar, Pangeran Sungai Itam, dan juga Syed Ibrahim (Siddy Ibrahim ) yang disebutkan sebagai seorang ulama besar yang punya pengaruh pada masyarakat di pegunungan.[1]


    [1] Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500 – 1900 (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm.46-47.; J. Kathirithamby-Wells, The British West Sumatran Presidency (1760-85), Kuala Lumpur: Universiti Malaya, 1977: hlm.39-40.

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: