Agussetiyanto’s Blog

  • 05:06:22 am on Oktober 19, 2008 | 0
    Tag:

    PANGGUNG SANDIWARA BUNG KARNO

    Semasa Pengasingannya di Bengkulu (1938-1942)

    Oleh : Agus Setiyanto

    Sekilas Naskah Bung Karno

    Naskah sebagai peninggalan produk masa lampau seringkali mengandung berbagai informasi tentang aspek kehidupan masyarakat lampaunya baik aspek ekonomi, politk, maupun sosial budaya (Siti Chamamah Soeratno, 1997:10). Demikian juga dengan kumpulan naskah sandiwara toneel karya Bung Karno.

    Kumpulan naskah sandiwara karya Bung Karno ini berbentuk dialog – dan kadang-kadang pada bagian-bagian tertentu diperlukan monolog. Oleh karenanya naskah tersebut dapat dimasukkan dalam kategori teks drama. Dialog bergantian (giliran bicara), sekali-kali monolog, merupakan teks-teks yang disiapkan kepada para aktornya – tak seorangpun ada berperan sebagai juru cerita (dalang) yang berhubungan langsung dengan penonton (Jan Van Luxemburg dkk, 1986:160).

    Jumlah naskah yang pernah ditulis oleh Bung Karno semasa pengasingannya di Ende (1934 – 1938) tercatat sebanyak dua belas judul (Cindy Adams, 1966:175 ; Lambert Giebels, 1999:200). Keduabelas judul tersebut, yang tercatat antara lain : Dr. Sjaitan; Ero Dinamik; Rahasia Kelimoetoe; Tahoen 1945; Don Louis Pereira; Koetkoetbi; Toberro, dan Kummi Torro ? -. Menurut cerita Pak Burhan Wahid, naskah Bung Karno yang diberi judul Toberro itu merupakan kepanjangan dari Tokyo – Berlin – dan Roma. Sayang, tak banyak data tentang naskah tersebut yang bisa diungkapkan.

    Kemudian, semasa pengasingannya di Bengkulu (1938 – 1942), Bung Karno juga menulis beberapa naskah, antara lain : Rainbow (Poetri Kentjana Boelan); Hantoe Goenoeng Boengkoek; Si Ketjil (Klein’duimpje); dan Chungking Djakarta.

    Sayangnya, dari sekian banyak naskah tersebut, yang sampai pada penulis, hanya ada empat buah naskah, yaitu : Dr. Sjaitan ; Chungking Djakarta; Koetkoetbi; dan Rainbow (Poteri Kentjana Boelan). Bahkan teks naskah Dr. Sjaitan sudah tidak lengkap – hanya ada dua bedrijf (babak) saja – semestinya, lengkapnya terdiri atas enam babak (Lambert Giebels, 1999: 201).

    Namun demikian, melalui beberapa narasumber yang pernah diceriterakan kepada penulis, kandungan ceritera beberapa naskah seperti Hantoe Goenoeng Boengkoek, Dr. Sjaitan, maupun Si Ketjil (Klein’duimpje) masih dapat direkonstruksi.

    Pesan Moral Bung Karno

    Apa yang ditulis oleh Bung Karno adalah buah pikirannya. Dan buah pikirannya sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya, serta semangat jiwa zamannya. Jelasnya, Bung Karno hidup dalam suasana zaman pergerakan melawan kolonialis, dan sebagai tokoh sentral dalam pergerakan kaum nasionalis yang sedang mengobarkan api semangat nasionalismenya, meskipun dalam kondisi fisik terkurung – jiwa – semangat tak terbendung.

    Buah tulisannya sangat sarat dengan amanat – pesan moral perjuangan yang disampaikan kepada masyarakat – bangsa Indonesia ditengah pergolakan hidup dari alam penjajahan menuju alam kemerdekaan. Pesan moral tentang arti pentingnya sebuah kesadaran sosial, berbudaya, politik, jatidiri – prinsip hidup bermartabat, berjiwa satria, kegotong-royongan – solidaritas – kebersamaan lintas kultural, kesadaran berketuhanan, hampir semua tercakup didalam isi kandungan kumpulan naskahnya.

    Nilai-nilai moral – etika, musyawarah, serta kepemimpinan nampak menonjol pada beberapa naskah karya Bung Karno, terlebih pada naskah Chungking Djakarta. Nilai-nilai tersebut nampaknya seperti menjadi salah satu kecenderungan dalam tradisi penulisan naskah – seperti yang terdapat juga pada kandungan naskah Tantu Panggelaran (Depdikbud : 1999), maupun Babat Lombok I (Depdikbud : 1999).

    Pesan – amanat Bung Karno sebagai seorang nasionalis – patriotis yang tulen cukup jelas pada isi kandungan naskah Chungking Djakarta. Dalam naskah ini, Bung Karno mengingatkan bahwa setiap langkah perjuangan tentu saja banyak rintangannya. Dan rintangan terberat yang sering menghadangnya adalah sebuah pengkhianatan dalam seperjuangan. Atau lebih tegasnya lagi “musuh dalam selimut”. Namun pada akhirnya kebenaran selalu membuahkan kemenangan.

    Tokoh Tjen Djit Tjioe dan Zakir Djohan dalam naskah Chungking Djakarta menggambarkan karakter dua orang pejuang yang gigih, ulet dalam mengemban misi perjuangannya dengan tulus, serta menjunjung semangat moralitas yang tinggi. Disisi lain, kedua tokoh ini menggambarkan solidaritas – kebersamaan lintas kultural. Konsep – wawasan nasionalisme – wawasan kebangsaan yang ingin dibangun oleh Bung Karno bukanlah konsep nasionalisme – kebangsaan yang sempit (chauvinistis). Nampaknya terbaca jelas melalui kedua tokoh Tjen dan Zakir yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda namun bersatu dalam semangat kesadaran nasionalisme – nasionalisme bangsa Asia melawan bangsa kolonial. Disamping itu, apa yang pernah dicita-citakan oleh Bung Karno dalam konsep pembangunan politiknya yang disebut dengan istilah – “membangun poros Jakarta – Peking” bisa jadi naskah Chungking Djakarta ini bagian dari perjalanan sebuah proses penuangan konsep dalam bentuk lain yang disamarkan. Sebaliknya, tokoh Jo Ho Sioe dan tokoh Abu menggambarkan karakter – sifat antagonistis, pengkhianatan terhadap bangsanya, haus kekuasaan – kebendaan, keserakahan – kebathilan, yang berujung pada kebinasaan. Sementara tokoh Miss Liliwoe mewakili sifat –watak patriotik yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan. Demikian juga dengan gambaran tokoh Saminah dalam naskah Chungking Djakarta ini. Saminah digambarkan sebagai seorang yang teguh mempertahankan prinsip – jatidiri kebudayaannya – tak terpengaruh oleh silaunya dunia yang serba kebendaan. Pesan moral yang cukup mendalam tentang nafsu, keserakahan, kekuasaan yang tidak selamanya membawa kebahagiaan dalam kehidupan. Bahkan, sebaliknya membuat orang lupa diri yang berujung pada kebinasaan – seperti yang dicontohkan pada tokoh Abu dalam Chungking Djakarta.

    Dan pada ujung ceritanya, Bung Karno memberikan pesan moral, bahwa pemberian penghargaan terhadap para pahlawan – pejuang sangat penting guna mengingatkan atas jasa-jasa perjuangan dalam membela tanah airnya. Seperti yang dicontohkan dalam akhir cerita ini, dimana Tjen Djit Tjioe dan Zakir Djohan mendapat tanda jasa perhargaan sebagai pejuang.

    Sementara pada isi kandungan naskah Koetkoetbi yang ada kecenderungan kemiripan pola dengan isi kandungan dalam naskah Dr. Sjaitan, lebih banyak menonjolkan unsur magis – mistis – penuh horor sebagaimana kisah dalam cerita film Frankenstein. Dan ending dari cerita Koetkoetbi ini cukup menarik – seperti akhir cerita dalam judul sinetron “misteri Illahi” – atau “Dendam Siluman Buaya”. Kekuatan Allah – Sang Pencipta – Penguasa isi jagad raya menjadi dasar – landasan tingkat kesadaran religius – keimanan si penulis naskah yang cukup kuat.

    Naskah Koetkoetbi ini ceritanya juga hampir mirip dengan cerita rekaan Jaelangkung – menggambarkan seseorang – manusia yang mencoba bermain-main dengan menghidupkan jasad orang yang sudah mati ratusan ribu tahun – yang kemudian membawa malapetaka baginya. Pesan moral yang disampaikan dalam Koetkoetbi ini selain berkaitan dengan pelestarian benda-benda cagar budaya, juga bahayanya – resikonya bermain-main dengan dunia mistis tanpa landasan kesadaran keimanan yang kuat. Dan akhirnya, hanyalah kekuatan Illahi lah yang harus ditempatkan diatas segalanya. Tiada tempat pertolongan selain melalui Allah.

    Selanjutnya, dalam naskah Rainbow, selain membawa pesan moral dalam membangun semangat patriotik – berjiwa ksatria, lebih banyak memberikan pengajaran arti pentingnya sebuah kesadaran sejarah sebagai entitas – bagian yang tak terpisahkan dalam kebudayaan masyarakatnya. Pesan moral Bung Karno tentang arti pentingnya kesadaran sejarah, diperjelas pada selebaran pamlet sebelum pementasan Rainbow. Bahkan dalam pamlet tersebut diterangkan tahun-tahun peristiwa sejarah Bengkulu.

    Bung Karno sangat sadar, bahwa masyarakat – bangsa Indonesia perlu mempelajari sejarah agar memiliki masa depan. Tampaknya sejalan dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Michael Sturner, bahwa “Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan masyarakatnya akan dikuasai oleh mereka yang menentukan isi ingatan, serta yang merumuskan konsep dan menafsirkan masa lampau” (Taufik Abdullah, 1995:35). Sejarawan Cicero pun pernah yang mengatakan, bahwa barang siapa tak kenal sejarahnya, akan tetap menjadi anak kecil” (Sartono Kartodirdjo, 1992:23). Dan jauh sebelumnya, orang Yunani Kuno pun sudah memperkenalkan apa yang disebut dengan Historia Vitae Magistra” (sejarah adalah guru kehidupan). Bukankah Bung Karno juga sempat mengingatkan kita tentang “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).

    Sebelum Memimpin Monte Carlo

    Sebagai seorang interniran (orang buangan politik) yang baru saja menginjakkan kakinya di bumi “Rafflesia” Bengkulu, tidak memungkinkan pada tahun pertama (1938) Bung Karno menerjunkan diri dalam kelompok seni musik orkestra Monte Carlo. Dan itu bukanlah tujuan utama Bung Karno untuk menerjunkan diri sebagai seorang “seniman” – melainkan semata sebagai media untuk menumbuhkankembangkan sebuah kesadaran nasionalisme kepada masyarakat yang sedang tertindas dalam belenggu kolonial.

    Pada tahun pertama, Bung Karno lebih banyak disibukkan oleh kegiatan yang bersifat sosial – kemasyarakatan. Bung Karno memerlukan sebuah proses sosialisasi dengan lingkungan barunya untuk memahami tipologi serta kultur masyarakat Bengkulu. Dan ternyata, dalam waktu yang relatif singkat Bung Karno mampu menjalin komunikasi – interaksi sosial dengan beberapa tokoh masyarakat kota Bengkulu – terutama dari kalangan terpelajar, cerdik-pandai, guru, pegawai, usahawan, termasuk juga tokoh-tokoh penting Muhammadiyah – maupun Taman Siswa.

    Di mata para tokoh pergerakan Bengkulu, nama Bung Karno sebagai tokoh pejuang sentral – nasional, memang sudah tidak asing lagi, karena mereka sudah sering mendengar, dan membaca tulisan-tulisan Bung Karno lewat media. Seperti yang diceritakan oleh M. Ali Hanafiah, salah seorang pendiri Taman Siswa Bengkulu, yang mendapat kehormatan kunjungan pertama Bung Karno ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Bengkulu (M. Ali Hanafiah, 2003: 25). Bahkan kemudian, pada suatu hari, Bung Karno dikunjungi oleh Hassan Din, Ketua Muhammadiyah setempat menjadi guru sekolah Muhammadiyah (Cindy Adams, 1966:188). Kunjungan Hassan Din bersama istri dan anaknya Fatima (Fatmawati), serta adik Hassan Din ke rumah Bung Karno dikisahkan oleh Fatmawati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Fatmawati, 1985:32).

    Sejak bergabung dengan para tokoh perkumpulan seperti Muhammadiyah dan Taman Siswa setempat, Bung Karno semakin banyak pergaulan – sering terjun ke lapangan – keliling kota Bengkulu. Bung Karno semakin aktif dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Dalam waktu yang relatif singkat, pengaruh Bung Karno di Bengkulu semakin besar, meski aktivitas Bung Karno Karno sepak terjang – gerak-gerik Bung Karno terus menerus diawasi oleh pemerintah Belanda melalui polisi intel.

    Di Bengkulu, Bung Karno juga mempunyai banyak kawan dari kalangan orang Tionghoa, termasuk orang-orang Tionghoa yang bergerak dalam usaha perdagangan. Beberapa orang Tionghoa yang sering bergaul dan menjadi sahabat Bung Karno antara lain: Oey Tjeng Hien alias H.A. Abdoel Karim, Lie Tjoen Liem, Liem Bwe Seng, serta Tjan pemilik percetakan.

    Rupanya Oey Tjeng Hien adalah kawan lamanya Bung Karno ketika sama-sama dengan duduk dalam Persyarikatan Islam – Persis di Bandung. Hien yang semula membuka usahanya di daerah Bintuhan (Bengkulu Selatan), lalu ditarik oleh Bung Karno untuk pindah ke kota Bengkulu. Hien akhirnya menuruti Bung Karno dan kemudian membuka usaha meubelnya di Suka Merindu bersama dengan Bung Karno sebagai arsiteknya. Di tempat itulah terpampang tulisan : Peroesahaan Meubel Soeka Merindoe dibawah pimpinan Ir. Soekarno. Hien bisa menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah di Bengkulu itu juga atas desakan Bung Karno (Lambert Giebels, 2001:219).

    Sedangkan hubungan Bung Karno dengan Lie Tjoen Liem yang semula hanya sebatas hubungan bisnis ringan yang saling menguntungkan, tetapi kemudian berlanjut seperti sahabat dekat. Menurut penuturan Bu Lidia alias Lie Khioek Sien, salah satu anak perempuannya Lie Tjoen Liem, bahwa Bung Karno sering juga datang ke tokonya yang sekaligus rumahnya – kadang juga makan di rumahnya. Bahkan Bung Karno pernah ngebon sebuah arloji seharga f 6 di toko papanya. Sayang, surat tanda bonnya dibawa oleh adiknya yang bernama Lie Kim Nam – dan sekarang adiknya sudah meninggal dunia.

    Lie Tjoen Liem, asal Tiongkok yang semula merantau ke Bantam dan berusaha di bidang leveransir beras, makanan, bahan bangunan, serta obat-obatan. Kemudian setelah ke Bengkulu, membuka Toko yang diberi nama Sin Tjie Hoo – nama papanya asli orang Tiongkok (Cina totok), tetapi orang kemudian lebih mengenal toko itu dengan nama pemiliknya, yaitu Liem – maka menjadi Toko Liem yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, serta barang-barang besi bangunan “ Provi’sien en Dranken, Ijzerwaren. ”

    M.Ali Hanafiah sendiri dalam catatannya juga menceritakan, bahwa Bung Karno dan M.Ali Hanafiah sebelum melakukan perjalanan keliling kota, mampir dulu ke Toko Liem – kemudian Bung Karno mengambil makanan dua batang chocolate Van Houten atau Kwatta yang kemudian dibagi berdua. Bung Karno mengambil begitu saja tanpa membayar – rupanya ada hubungan bisnis kecil-kecilan, yaitu Bung Karno dengan menggunakan nama samaran sering menulis artikel pada lembar iklan tokonya (M. Ali Hanafiah, 2003:38).

    Orang Tionghoa yang satunya lagi yang berhubungan dengan Bung Karno adalah Liem Bwe Seng, pemilik rumah di jalan Anggut Atas yang disewa oleh Bung Karno sebagai tempat tinggal selama di Bengkulu (1938-1942). Sayang tidak banyak keterangan seberapa jauh hubungan Bung Karno dengan pemilik rumah yang telah terjalin selama empat tahun.

    Memang, kebanyakan yang membuka usaha bisnis berbagai macam perdagangan baik di bidang percetakan (drukkerij), makanan dan minuman, barang-barang bangunan (besi, seng, paku, semen, cat, dan lain-lain), dan lain-lain adalah orang-orang Tionghoa, termasuk pemilik Toko En yang bergerak dibidang jasa photograf. Sudah barang tentu Bung Karno sering berhubungan dengan mereka yang banyak menyediakan berbagai barang yang diperlukan dalam pertunjukan Monte Carlo.

    Pemimpin Monte Carlo

    Tak diketahui secara pasti kapan tepatnya, Bung Karno menjadi pemimpin Monte Carlo. Tetapi, paling tidak pada bulan ketika Bung Karno sudah mulai menulis naskah Dr. Sjaitan. Pada naskah Dr. Sjaitan tercantum kolofonnya, yaitu tanggal 24 Desember 1938. Artinya, Bung Karno terlibat secara aktif dalam sandiwara toneel Monte Carlo – bisa jadi sudah menjadi pucuk pimpinannya.

    Pendek kata, Bung Karno sudah mempunyai pengaruh yang besar dikalangan para seniman, khususnya kelompok musik orkestra Monte Carlo yang rata-rata para anggotanya masih golongan muda-muda.

    Bung Karno merasa perlu mendekati para anak muda yang tergabung dalam kelompok musik orkestra Monte Carlo itu. Bung Karno ingin memberikan pelajaran – gemblengan – semangat kepada para pemuda untuk menumbuhkan serta membangkitkan kecintaannya kepada tanah air, semangat patriotik, sebagaimana semangat dan kobaran jiwa nasionalisme Bung Karno yang tak pernah padam. Meski segala gerak-gerik – sepak terjang Bung Karno tak pernah lepas dari pengawasan Politieke Inlichtingen Dienst (PID) – semacam polisi intel yang diberi tugas oleh pemerintah Belanda untuk mengawasi apa saja kegiatan Bung Karno di Bengkulu.

    Setelah menjadi pimpinan Monte Carlo, Bung Karno segera melakukan formulasi baru dalam seni pertunjukannya. Monte Carlo yang semula hanya bergerak di bidang seni pertunjukan musik orkestra saja, oleh Bung Karno kemudian difusikan – dilebur dalam bentuk sebuah seni pertunjukan sandiwara toneel.

    Tetapi belakangan, Bung Karno juga merekruit para anak muda – pelajar yang mempunyai minat di bidang olah raga. Oleh karenanya, Bung Karno kemudian membentuk kelompok Monte Carlo yang bergerak di bidang olah raga seperti Badminton (bulu tangkis) , dan sepak bola – yang juga sedang ngetrend – populair seiring dengan pertumbuhan budaya masyarakat perkotaan Bengkulu pada waktu itu.

    Dalam bidang olah raga sepak bola, mereka mempunyai kelompok tersendiri yang diberi nama “ Elftal Monte Carlo” ( kesebelasan Monte Carlo). Bung Karno sendiri sekali-kali pernah juga bermain bulu tangkis. Bahkan pernah mengajari Fatmawati bermain bulu tangkis (Cindy Adams, 1966:188).

    Bagi Bung Karno yang sudah mempunyai modal pengalaman mendirikan grup sandiwara toneel Kelimutu ketika di Endeh (1934-1938) tentunya tidak terlalu sulit untuk memimpin sandiwara toneel Monte Carlo ini. Apalagi, di Bengkulu sudah ada fasilitas gedung pertunjukan seperti Royal Cinema. Disamping modal pengalaman dalam hal sandiwara, Bung Karno juga mempunyai banyak referensi kepustakaan tentang berbagai macam cabang ilmu pengetahuan – sehingga wawasan pengetahuan umumnya amat luar biasa. Pengalamannya melukis, menulis naskah, membuat tipuan suara-suara angin, guntur, hujan, hingga tipuan membangkitkan mayat hidup, ketika di Endeh menjadi modal dasar yang kuat untuk menggarap pertunjukan Monte Carlo.

    Pada umumnya, perkumpulan sejenis sandiwara ini, seorang pimpinan seringkali merangkap berbagai peran sekaligus – baik sebagai penulis naskah, sutradara, produser, hingga manajer pemasarannya. Demikian, peran Bung Karno dalam perkumpulan sandiwara Kelimutu yang tidak sekedar penulis naskah, mencari dan memilih pemain, membuat layar gambar – lukis, tetapi juga berperan sebagai sutradara, manajer pemasaran, dan sekaligus produsernya. Kecuali pada naskah “Tahoen 1945”, Bung Karno menawarkan peran sutradara kepada seorang warga Filipina yang bernama Nathan yang dikenalnya di Endeh (Lambert Giebels, 2001:200).

    Sebagai pemimpin Monte Carlo, Bung Karno juga tidak sekedar berperan sebagai menulis naskah saja, tetapi juga sutradara, manajer pemasaran, dan sekaligus produsernya. Dan disamping itu juga masih melakukan berbagai macam pekerjaan seperti mencari – memilih para aktor – pelaku, membuat – setting panggung, merancang – melukis layar, dan lain-lain.

    Barangkali ini salah satu hal yang membedakan antara ciri khas kelompok sandiwara jenis toneel – dengan kelompok teater modern. Pada kelompok teater modern, ada spesifikasi – peran khusus ditangani oleh masing-masing orang. Sementara, pada kelompok jenis sandiwara toneel, seorang pimpinan – produser, biasa merangkap sebagai penulis skrip, sutradara, serta menjadi manajer pemasaran dan keuangan.

    Tetapi ada hal menarik tentang perbedaan yang cukup menonjol ketika Bung Karno memimpin sandiwara Kelimutu dengan ketika memimpin sandiwara Monte Carlo, terutama dalam penerapan naskah. Ketika di Endeh, Bung Karno menulis naskah-naskahnya hanya garis besarnya saja, kemudian disampaikan kepada kelompok pemain, lalu menetapkan siapa memegang peran apa – dan selanjutnya mereka disuruh menghafalkan dengan terus mengulang apa yang dikatakan oleh Bung Karno, serta menirukan contoh yang diberikannya (Lambert Giebels, 2001:200). Tetapi, ketika di Bengkulu, Bung Karno menyiapkan naskah secara lengkap seperti yang kita lihat pada teks naskah Rainbow, Chungking Djakarta, dan Koetkoetbi.

    Meskipun Bung Karno dalam Monte Carlo menulis naskah secara lengkap, tetapi dalam pelaksanaannya tak jauh berbeda dengan ketika memimpin Kelimutu. Bung Karno tetap mendiktekan naskahnya kepada para pemain yang sudah dipilihnya dan disuruh menghafal terus menerus serta menirukan perkataan serta gerakan yang diberikannya.

    Tampaknya, gaya sandiwara Monte Carlo pimpinan Bung Karno ini agak berbeda dengan gaya kelompok sandiwara komersial seperti Miss Riboet, Oreon, Dardanella, Komedi Bangsawan, Komedi Stamboel, dan sejenisnya, seperti yang digambarkan oleh Bakdi Soemanto sebagai kelompok yang mempertahankan jagad pikir kebudayaan oral. – karena cara bermain lebih loose, dan bebas dari segala patokan (Bakdi, 2001:266). Termasuk juga jenis sandiwara Ludrug gaya stamboel Jawi – sebagai kelanjutan dari bentuk Ludrug Besutan sebagaimana catatan Ki Soemadji A, yang pernah melacak sejarah kesenian Ludrug asal Jawa Timur (J.J. Ras, 1985: 311-318).

    Juga ada perbedaan dalam hal gaya monolog. Dalam penulisan naskah karya Bung Karno, tidak terdapat monolog yang memberi peluang – ruang gerak pada pemain – aktor untuk berkominikasi – menyapa dengan audien – penontonnya seperti yang dilakukan gaya monolog dalam Ludrug, maupun Lenong Betawi. Gaya monolog dalam naskah – lakon Lenong Betawi diucapkan pada permulaan adegan dengan tujuan memperkenalkan tokoh yang akan diperankan berikut situasi lingkungannya (Ninuk Kleden-Probonegoro, 1996:42).

    Demikian juga dalam hal tema – lakon yang dipentaskan. Dalam Monte Carlo, Bung Karno mencoba menggabungkan – memasukkan unsur – konsep drama – teater modern dengan tetap menggunakan setting layar berdasarkan latar belakang tempat dan peristiwa kejadiannya. Berbeda dengan kosep drama- teater modern yang menggunakan setting tak sekedar latar belakang, tetapi juga unsur yang membangun perkembangan sruktur dramatik lakon dari awal hingga akhir (Bakdi, 2001:268). Sementara, pada kelompoknya Miss Riboet yang bertahan hingga lima belas tahunan – dan Dardanella yang mampu bertahan hingga dua dekade, lebih mengedepankan gaya dalam bentuk nyanyian – lagu-lagu sindiran – sinis – dan penuh simbolik ( Mohamad Nazri Ahmad, 2000:33).

    Bung Karno dalam menggarap setting toneel – panggung, disamping menggunakan – menyiapkan berbagai macam layar gambar dan properti lainnya sesuai dengan latar belakang tempat dan peristiwa, juga menambahkan trik-trik – dengan teknik yang menyerupai peristiwa kejadiannya. Seperti teknik menggunakan lembaran zink (seng) – blik (kaleng), pasir, kerikil –batu-batuan, bubuk – zat peledak, dan lain-lain untuk menirukan suara gemuruh angin, hujan, petir, halilintar dan lain-lain. Bung Karno juga menggunakan peralatan electric dengan kabel-kabel stroom.

    Dalam hal penulisan naskah, Bung Karno rupanya tidak mau sembarangan – asal-asalan saja. Bung Karno berusaha mempelajari berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu sejarah, dan sastra – bahasa. Wawasan pengetahuan – referensi Bung Karno yang sangat luas itu juga menjadi bagian dari yang tak terpisahkan dalam mengimplementasikan proses gagasan-gagasan – ide-ide kreatifnya.

    Tanpa referensi, serta wawasan pengetahuan yang luas mungkin sulit bagi seorang Bung Karno dalam menciptakan ide-ide kreatif. Bagaimana Bung Karno mampu mengadaptasi – menginterpretasi film Franskenstein yang amat populer pada saat itu menjadi naskah Dr. Sjaitan – dan Koetkoetbi tanpa dukungan faktor empiris yang luas.

    Demikian juga dengan naskah Rainbow (Poetri Kentjana Boelan). Tanpa wawasan pengetahuan sejarah, khususnya sejarah Bengkulu, sulitlah bagi Bung Karno mampu menuangkan cerita epik yang berbau historis dalam naskah tersebut. Mungkin saja, Bung Karno juga membaca Tambo Bangkahoeloe ketika akan menulis naskah Rainbow. Disamping itu, Bung Karno amat cerdas menggiring alur cerita berbau roman sejarah yang penuh semangat patriotik – meskipun dalam cerita tokoh sentral yang romantis berakhir dengan tragis – “romantis membawa tragis” . Tetapi, bisa jadi, naskah Rainbow ini merupakan salah satu dari sekian naskah karya Bung Karno yang dapat dikategorisasikan kedalam karya sastra sejarah – atau tepatnya roman sejarah.

    Dalam hal penyutradaraan, secara teoretis, seorang sutradara harus memiliki modal pengalaman, pengetahuan, berbakat pemimpin atau guru, kemampuan meyakinkan para aktor, serta pengetahuan psikologi. Demikian menurut catatan Kalam Hamidi, yang juga seorang aktor, penulis naskah, dan sekaligus sutradara drama dan teater (Kalam Hamidi, 2003: 40). Apa yang menjadi catatan tersebut, itu sudah dilakukan oleh seorang Bung Karno ketika menjadi sutradara dalam pementasan sandiwara Monte Carlo.

    Sebagai sutradara, Bung Karno yang punya waktu luang banyak tentu saja akan melakukan pekerjaannya dengan serius. Dengan kata lain, Bung Karno jelas memberikan latihan – gemblengan terhadap para pemainnya. Dan tentu saja, sebelumnya Bung Karno telah melakukan seleksi para pemainnya untuk menentukan peran yang dengan tokohnya. Selanjutnya Bung Karno menyiapkan jadwal dan tempat latihannya, gladi resik, hingga persiapan pementasannya.

    Bung Karno membutuhkan waktu latihan dua hingga tiga mingguan untuk melatih para pemainnya. Waktu latihan biasanya pada sore hari dan kadang malam hari. Tempat yang paling sering digunakan Bung Karno untuk melatih serta menggembleng para pemainnya adalah di rumah Manaf Sofiano, Kampoeng Djawa. Tetapi kadang-kadang Bung Karno menggunakan tempat latihan di rumah Demang Karim yang terletak di Berkas. Sedang untuk persiapan lakon Si Ketjil, Bung Karno melatihnya di rumahnya sendiri.

    Bung Karno juga sangat teliti dalam urusan yang kecil-kecil, termasuk memeriksa kenyamanan dan keamanan lantai panggung yang akan digunakan oleh para pemain – seperti memeriksa kalau ada paku-paku yang membahayakan. Demikian cerita dari Pak Rustam Effendi meneruskan cerita dari ayahnya, Bachtiar Karim.

    Kesuksesan pertunjukan Monte Carlo ternyata tidak hanya berimbas pada kesejahteran bagi para pemainnya saja, tetapi juga berimbas pada yang lainnya. Karena sebagian dari hasil pertunjukannya ternyata diamalkan untuk kepentingan sosial.

    Sebagai pemimpin sandiwara toneel Monte Carlo yang sudah berpengalaman, Bung Karno menyadari, bahwa musik memegang peranan yang sangat penting. Tanpa illustrasi musik, pertunjukan seni jenis apapun takkan pernah berhasil – sukses. Oleh karenanya, dalam hal penataan musik, Bung Karno mempercayakan penuh kepada Manaf Sofiano yang memang piawai dalam memainkan alat musik piano maupun saxofon. Bahkan Manaf Sofiano dipercaya oleh Bung Karno sebagai bendaharanya.

    Disamping itu, rupanya, Manaf Sofiano tidak hanya memegang jabatan sebagai bendahara dan penata musik saja, tetapi juga diberi peran utama oleh Bung Karno. Bahkan diantara para pemain Monte Carlo yang dianggap terbaik oleh Bung Karno adalah Manaf Sofiano. Dan Bung Karno dengan jujur telah memujinya sebagai seorang primadonna dalam pertunjukan Monte Carlo (Cindy Adams, 1966:206).

    Kepiawaian Bung Karno sebagai produser – pimpinan sandiwara Monte Carlo boleh dibilang cukup mengagumkan – dan tentu saja membutuhkan pekerjaan yang rumit. Mulai dari merancang – menulis naskah – mencari pemain – menyeleksi pemain – membagi peran – merancang tonil – menyiapkan kain – melukis layar – menyiapkan properti – menyiapkan spanduk – penyebaran pamlet – percetakan – menyiapkan promosi dengan kendaraan keliling – menyiapkan tempat pentas – menyiapkan dana produksi – menyiapkan tiket – karcis – mengundang penonton – membuat jadual latihan – gladi resik hingga jadual pementasan, dan lain-lain – semua berada dibawah tanggungjawab dan pengawasan Bung Karno.

    Di Bengkulu, Inggit juga melakukan pekerjaan yang sam ketika di Endeh, yaitu sebagai penata rias. Bung Karno memilih Hanafi dan M. Zahari Thanie, serta Sjoufi, untuk memeran tokoh-tokoh perempuan dalam lakon-lakon pertunjukannya. Belakangan nama Hanafi ditambah dua huruf setelah bergabung dan menjadi orang dekat Bung Karno, sehingga namanya menjadi A.M. Hanafi – A.M adalah kepanjangan dari Anak Marhen. Bahkan setelah Bung Karno menjadi Presiden RI, A.M. Hanafi pun mendapat posisi yang tinggi, yaitu diangkat sebagai Duta Besar untuk Kuba. Resminya, A.M. Hanafi dilantik sebagai duta besar berkuasa penuh R.I untuk Republik Kuba di Havana pada tanggal 19 Desember 1963 (A.M. Hanafi, 1996: 22).

    Sebagai sutradara, Bung Karno yang punya waktu luang banyak tentu saja akan melakukan pekerjaannya dengan serius. Dengan kata lain, Bung Karno jelas memberikan latihan – gemblengan terhadap para pemainnya. Dan tentu saja, sebelumnya Bung Karno telah melakukan seleksi para pemainnya untuk menentukan peran yang dengan tokohnya. Selanjutnya Bung Karno menyiapkan jadwal dan tempat latihannya, gladi resik, hingga persiapan pementasannya. Menurut narasumber, Bung Karno membutuhkan waktu latihan dua hingga tiga mingguan. Waktu latihan biasanya pada sore hari dan kadang malam hari.

    Jauh hari sebelum pertunjukan, Bung Karno sudah menyebarkan pamflet yang promosinya sangat memikat para pembacanya. Isi pamfletnya selain mengundang rasa penasaran, juga memberikan informasi menarik serta menyertakan harga karcis – tiket tanda masuk.

    Kemudian pada sore hari menjelang pertunjukannya, Bung Karno mengadakan programa keliling, yaitu mengarak para pemain yang akan tampil nanti malam – berkeliling kota Bengkulu dengan menyewa mobil.

    Disamping, menyewa mobil untuk mengarak para pemain, Bung Karno juga menyewa gedung tempat pertunjukannya, yaitu gedung bioskop Royal Cinema dengan cara mengangsur (menyicil).

    Sebagai seorang pemimpin yang memiliki proyeksi – pandangan jauh kedepan, Bung Karno juga amat menyadari arti pentingnya sebuah dokumen – arsip sebagai saksi bisu yang suatu saat akan bisa berbicara banyak tentang masa lampaunya. Oleh karenanya, Bung Karno menyimpan berbagai dokumen – arsip, terutama yang berkaitan dengan sandiwara toneel Monte Carlo. Beberapa dokumen berupa gambar – photo yang tersisa sebagian masih dapat dilihat di Museum – Rumah Kediaman Bung Karno yang terletak di Anggut Atas Kota Bengkulu.

    Pada acara pertunjukan, Bung Karno tidak menempatkan diri dibelakang layar, seperti halnya yang biasa dilakukan oleh para sutradara pada pertunjukan sandiwara Kethoprak maupun Ludrug. Sebaliknya, Bung Karno justru duduk di kursi barisan depan sejajar dengan para pembesar Belanda, elite pribumi, pengusaha – saudagar – orang-orang Tionghoa yang biasanya mengambil karcis loge de luxe (tempat duduk VIP).

    CURICULUM VITAE

    Agus Setiyanto, lahir di Kudus, 21 April 1958. Jebolan sarjana Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro Semarang tahun 1984 ini juga sempat menjadi guru di SMA Hasyim Asy’ari Kudus selama 3 tahun (1984 s/d1987). Tahun 1987 diangkat menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu. Dan tercatat juga sebagai dosen kewiraan (alumni Lemhannas Angkatan XXIV tahun 1987). Tahun 1992 kuliah di Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jurusan Humaniora, Program Studi Ilmu Sejarah dan lulus tahun 1996 dengan tesisnya yang berjudul: Elite Pribumi Bengkulu Pada Abad XI

    Pengalaman berorganisasi antara lain : Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Bengkulu; Wakil Ketua Bencoolen Society; Wakil Ketua II Dewan Kesenian Propinsi Bengkulu; Direktur Paguyuban Seni Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa (PASDO-KARMA) Universitas Bengkulu; Presiden Komunitas Seniman Bengkulu (KSB);

    Beberapa naskah bukunya, antara lain :

    (1) BUSERAH Jilid Satu, Jilid Dua, Penerbit Lemlit UNIB Press, 2001).

    (2) Elite Pribumi Bengkulu (Penerbit Balai Pustaka, 2001).

    (3)Ibu Negara Dalam Kenangan “Fatmawati Dalam Dunia Kosmos Bengkulu”

    (Jakarta, 2004 ).

    (4) Maharaja Disastra (Editor) penerbit Ombak Yogya, 2006

    (5) Orang Orang Besar Bengkulu, Penerbit Ombak, Yogya 2006

    (6) BUNG KARNO Maestro Monte Carlo, Penerbit Ombak, Yogya 2006

    (7) PANGGUNG BANGSAWAN, Penerbit GitaNagari, Yogya 2006

    (8) PUTRI GADING CEMPAKA, Penerbit GitaNagari Yogya 2006.

    (9) PUTRI RINDUNG BULAN, Penerbit GitaNagari, 2006.

    Saat ini dipercaya oleh Pemda Prop. Bengkulu sebagai Kepala Taman Budaya Propinsi Bengkulu.

    Alamat rumah : Jl.Iskandar no 22 Bengkulu

    Telp. 0736-341075 – HP. 081367729511

    Alamat kantor : Taman Budaya Bengkulu, jl. Pembangunan no 11 Pd

    . Harapan Bengkulu

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: