Agussetiyanto’s Blog

  • 01:27:34 am on November 2, 2008 | 0
    Tag:,

    Budaya Hegemonik

    Di Lingkungan Sivitas Akademika *

    Orang boleh saja menilai, bahwa masyarakat sivitas akademika itu sebuah masyarakat yang serba ilmiah, kritis, obyektif, jauh dari pengaruh etos budaya konformitas maupun etos budaya hegemonik-feodalistik yang vertical-oriented. Akan tetapi anggapan-anggapan seperti itu masih perlu pembuktian, karena secara empiris masih dijumpai berbagai bentuk praktik yang mengacu pada warisan budaya hegemonik feodalistik yang vertical-oriented.

    Itu dapat dicermati dari pola hubungan patron-klien antara dosen – mahasiswa, antara dosen biasa dengan dosen yang struktural (memegang jabatan), sering belum mencerminkan model yang “das sollen” (seharusnya), yaitu hubungan yang horizontal-oriented. Padahal sifat dan ciri hubungan horizontal-oriented tersebut cukup jelas, yaitu terjadinya hubungan timbal balik yang seimbang dalam wujud pertukaran sumber daya yang masing-masing memiliki sistem nilai yang sama. Pendeknya, keduanya adalah partnership. Apabila tidak, maka akan terjadi hubungan yang timpang. Hubungan yang timpang ini ditandai oleh bermacam-macam sikap, misalnya: mahasiswa selaku pihak klien hanya mengenal budaya mendengar, menerima instruksi dengan “sendiko tanpa mbadal dawuh”, yang penting Asal Bapak Senang (ABS), yes man, dan sejenisnya. Sementara, pihak dosen selaku patron sering banyak aksi dengan segudang instruksi tanpa kompromi alias otoriter. Celakanya lagi, si mahasiwa selaku klien yang sudah tersosialisasikan sebagai pihak yang serba lemah posisinya, seringkali serba ewuh pakewuh (sungkan), ketakutan, traumatik, minder, dan sejenisnya, baik dalam aktifitas belajar mengajar, bimbingan akademik, maupun bimbingan karya tulis (skripsi).

    Sikap tersebut jelas tidak menguntungkan bagi pembangunan bagi masyarakat sivitas akademika, terlebih pihak kliennya (mahasiswanya). Di samping itu, masih ada mahasiswa yang belum memahami, bahwa sebetulnya ada pihak broker (perantara), yaitu senat mahasiswa yang bisa diperankan untuk memperlancar urusan studinya. Akan tetapi, celakanya, pihak senat mahasiswa itu sendiri sering tidak memahamiperan strategisnya. Padahal secara politis, fungsi senat mahasiswa itu tak ubahnya sebuah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang sepatutnya ikut terlibat aktif dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut dunia mahasiswa. Dus, setiap pengambilan kebijakan sepanjang menyangkut dunia mahasiswa, termasuk yang dikemas dalam paket “Tri Dharma Perguruan Tinggi”, idealnya juga harus mendapat kesepakatan senat mahasiswa (apakah itu senat fakultas, maupun senat universitas). Tidak terkecuali kebijakan-kebijakan ataupun keputusan-keputusan yang bersinggungan dengan masalah uang.

    Setiap penarikan uang dari mahasiswa berapapun kecilnya, dan betapan alasannya, idealya juga harus mendapat persetujuan senatnya. Sayang, semuanya itu sering terabaikan, atau mengalami disfungsi, karena pihak senat mahasiswa itu sendiri juga telah tersosialisasikan dalam warisan budaya hegemonik-feodalistik yang vertical-oriented, sebagai pihak yang serba lemah dan nurut.

    Kehidupan birokrasinya pun tidak terlepas dari warisan budaya hegemonik-feodalistik. Sifat ambivalensi (ke atas menjilat, ke bawah menendang), penyakit kleptokrasi (mencuri alat-alat kantor, dan sejenisnya), pembagian tugas atau posisi yang tak relevan dengan latar belakang pendidikan dan keahliannya, memanipulasi jabatan dan wewenang, korup jam kerja, maupun anggaran, sistem rekruitmen yang tidak transparan, dan mungkin masih banyak lagi penyakit-penyakit sebangsanya sebagai akibat terkontaminasinya warisan budaya hegemonik-feodalistik tersebut, sehingga membuka peluang berkembangnya “mafia akademika”.

    Praktik warisan budaya inipun tak pelak lagi membawa kecenderungan terciptanya budaya negosiasi, dan kolusi dengan cara “mepet dan melet” (mendekat dan memikat) pada pihak-pihak elite penentu. Akibatnya dapat diramalkan, bahwa siapa yang berhasil mepet dan melet besar kemungkinan akan memperoleh posisi jabatan atau job yang diinginkan.

    Berbicara soal pepet memepet, dan pelet memelet, rupanya mahasiswa selaku klien juga ada yang tak mau ketinggalan. Karena kedekatannya dengan pihak patron (dosen), maka nasibnya lebih beruntung dibanding dengan kawan-kawannya yang masih polos. Melalui ajian mepet dan melet tersebut, mereka bisa mendapatkan beberapa paket prioritas yang diinginkan, seperti nilai ujiannya bagus, mendapat nama dosen Pembimbing Akademik (PA) yang disukai, nama dosen penguji skripsinya, dan lain-lain. Kalau sudah sedemikian kondisinya, maka bisa jadi secara samar-samar ataupun secara transparan muncul sebuah kelompok atau persekutuan yang aneh… , sebut saja sebangsa mafia akademika.

    Budaya hegemonik-feodalistik yang vertical-oriented, juga menelorkan beberapa paket tradisi, seperti tradisi (kebiasaan) mohon petunjuk, tradisi nengga dawuh (nunggu instruksi), mohon legalitas (Pengesahan), mohon rekomendasi, dan sejenisnya. Tradisi mohon petunjuk seringkali dilakukan pada acara-acara yang dianggap monumental, misalnya pada acara pembukaan seminar, penataran, lokakarya, Kuliah Kerja Nyata (KKN), pembukaan ini, dan itu, dan sebagainya.

    Padahal tradisi semacam itu, kadang justru menghambat sistem birokrasi modern yang berprinsip pada efektivitas dan efisiensi kerja. Misalnya saja, acara yang seharusnya telah dijadualkan secara ketat, tetapi karena si pemberi petunjuk yang dimohon untuk membuka acara tidak datang tepat pada waktunya, maka jadualnya jadi molor. Bisa juga si pemberi petunjuk merasa kewalahan karena kebanyakan permohonan untuk membuka ini dan itu, sehingga si pemberi petunjuk itu sendiri menjadi tidak siap. Dalam situasi yang demikian, tidak menutup kemungkinan si pemberi petunjuk itu malah minta petunjuk (nyuruh ajudannya) untuk membuatkan konsep. Sungguh ironis bukan ? Itupun masih tergolong lumayan, daripada si pemberi petunjuk itu mewakilkan.

    Tradisi mohon legalitas (pengesahan) di lingkungan sivitas akademika pada umumnya dilakukan dalam rangka paket-paket bersangkut paut dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat). Tradisi mohon legalitas di lingkungan sivitas akademika ini nampaknya memang jauh lebih bersih dibanding dengan tradisi mohon legalitas di kantor kelurahan, maupun di kantor kecamatan yang sering meminta uang komisi (semacam pungli lah). Meskipun demikian, ada juga bagian-bagian tertentu yang harus diperhitungkan dengan uang sebagai akibat dari penggunaan legalitas. Misalnya, untuk kegiatan penelitian, pengabdian, dan sejenisnya yang memang mendapat dana bantuan dari suatu proyek. Dan biasanya, dikenakan pajak sekitar 10 – 15 % dari jumlah dana bantuan tersebut. Sudah barang tentu semakin banyak legalitas yang mendatangkan uang, semakin banyak pula pemasukan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pemberian legalitas tersebut. Oleh karena bagian ini dianggap bagian yang cukup basah, maka wajarlah bila menjadi incaran di kalangan sivitas akademika. Dan dibagian inipun juga bisa rawan dari bahaya mafia akademika.

    Demikian juga dengan tradisi mohon rekomendasi. Ada yang sekedar untuk kelancaran dan kemajuan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan ada pula yang mendatangkan keuntungan-keuntungan ekonomi bagi si pemberi rekomendasi. Tradisi mohon rekomendasi yang dapat mendatangkan keuntungan ekonomi antara lain: rekomendasi mengenai pembangunan fisik (gedung), pengadaan perlengkapan alat-alat kantor, pakaian seragam dosen-karyawan, jaket mahasiswa, dan entah apa lagi namanya. Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut, pihak pemborong biasanya melakukan proses negosiasi, baik secara langsung, maupun melalui calo (orang dalam) dengan menerima segala konsekuensinya, seperti pemberian komisi, bonus, doorprize, dan sejenisnya. Bahkan kalau perlu, si pemborong tersebut berani pasang bonus atau komisi yang tinggi agar tidak kalah saing dengan pemborong yang lain.

    Praktik warisan budaya hegemonik-feodalistik di lingkunga sivitas akademika ini juga bisa membawa dampak psiko-somatik bagi para pendukung atau para pelakunya. Maka jangan kaget, jika tiba-tiba muncul wajah-wajah yang manis, lemah lembut, meski kemudian ujungnya menjilat atau menendangnya. Dan juga bisa muncul wajh-wajah yang angker, seram, sinis, pendiam, ketakutan, dan lain sejenisnya.

    Budaya Tandingan

    Pasang surutnya suatu budaya, tradisi, adat-istiadat, atau apapun namanya, sebetulnya sangat tergantung pada masyarakat pendukungnya. Suatu budaya dapat berkembang dengan subur di dalam suatu komunitas apabila budaya itu memang mendapat dukungan kuat dari komunitasnya. Sebaliknya, suatu budaya tidak dapat berkembang atau bahkan mengalami kepunahan, apabila masyarakat pendukungnya telah berpaling ke arah yang lain, dan telah menemukan “counter cultural” (budaya tandingan) yang dianggap lebih representatif dalam mengembangkan jatidirinya.

    Oleh karenanya, sebagai masyarakat sivitas akademika yang telah dianggap memiliki nilai lebih dalam berpikir kritis dan lebih demokratis, sepatutnya “tancut tali wondo, ing ngarso sung tulodo” (segera bangkit bertindak, tampil ke depan memberi tauladan) untuk meninggalkan praktik warisan budaya hegemonik-feodalistik yang vertical-oriented, dengan memproduksi counter cultural (budaya tandingan) yang benar-benar mencerminkan model patron-klien yang horizontal-oriented. Produk budaya tandingan tersebut sepatutnya didukung oleh segenap lapisan sivitas akademika, sehingga produk lama yang vertical-oriented tergeser jauh dari pandangan, sikap, dan tata laku dalam kehidupan kampus.

    Salah satu alternatif pemecahan masalahnya, yaitu selain mengaktualisasikan produk-produk yang sudah ada, apakah itu dalam bentuk lembaga, balai, badan, biro, himpunan, ikatan, dan entah apa lagi, baik yang berfungsi sebagai mediator maupun kontrol, seperti senat universitas, senat fakultas (senat dosen, maupun senat mahasiswa), himpunan mahasiswa ini dan itu, ikatan ini dan itu, lembaga kajian ini dan itu, dan lain-lain. Juga individu-individu baik yang terkait dalam pemegang jabatan (wewenang) di birokrasi, pembimbingan akademik, pembimbingan skripsi, pembimbingan lapangan (DPL KKN), dan selain sebagainya, agar berkiprah sesuai dengan visi dan misi tri dharma perguruan tinggi.

    Restrukturisasi

    Hal yang tak kalah pentingnya, yaitu perlunya perombakan strukturisasi dalam keanggotaan senat, baik di tingkat fakultas maupun di tingkat universitas. Idealnya, orang-orang yang duduk di dalam keanggotaan senat sebaiknya tidak merangkap sebagai pejabat struktural (eksekutif) . kalaupun pejabat struktural itu sudah terlanjur merangkap anggota senat, maka jumlahnya harus lebih sedikit daripada jumlah anggota senat yang tak punya jabatan struktural (non struktural).

    Dengan demikian, aspirasi senat akan lebih terkonsentrasi pada masyarakatnya yang diwakilinya (anggotanya). Sebaliknya apabila sebagian besar anggota senat itu juga pejabat struktural (kaum eksekutif), maka kecenderungan vertical-orientednya akan semakin besar.

    Pengaplikasian sistem “Total Quality Management (TQM) yang berorientasi pada client services (horizontal-oriented) sebagai produk budaya tandingan, menjadi kunci penentu dalam menciptakan iklim demokratis di lingkungan sivitas akademika. Karena TQM sebagai produk budaya tandingan dari budaya hegemonik-feodalistik tidak diprogram untuk menjadi kings-services yang vertical-oriented.

    Di samping itu, juga diperlukan keberanian untuk meninggalkan tradisi-tradisi yang tidak mendukung visi dan misi tri dharma perguruan tinggi, tetapi jelas-jelas mendukung pembangunan bagi ummat sivitas akademika yang bernilai budaya demokratis.

    Untuk mendukung tercapainya masyarakat sivitas akademika yang benar-bena bercorak horizontal-oriented, tidak ada salahnya kalau bapak presiden kampung (dalam hal ini, rektor) juga membentuk semacam komisi hak asazi warga kampus (Kom Ham Gapus) sebagai produk budaya tandingan yang berorientasi pada client services …Wallahu’alam bishowab.


    * Dipublikasikan di Harian Semarak Bengkulu, 19 Oktober 1997.

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: