Agussetiyanto’s Blog

  • 01:31:56 am on November 2, 2008 | 0
    Tag:, ,

    Demo Mahasiswa Kampus

    Dan Kritikus Seni*

    Seandainya saja saya ini seorang kritikus seni, khususnya seni pertunjukan demo mahasiswa yang digelar di kampus, maka saya akan mengkritik apa saja dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Sebab, bagi seorang kritikus seni, demo mahasiswa yang digelar di kampus, tak ubahnya seperti sebuah seni pertunjukan rakyat. Atau semacam teater yang dipentaskan di alam terbuka, yang penuh nuansa demokratis. Karenanya, kritik bebas bisa saya lontarkan kepada pimpinan produksinya, sutradaranya, skenarionya, penata artistiknya, penata suaranya, penata musiknya, maupun para aktornya. Bahkan kalau perlu, saya dapat secara bebas mengkritik orang-orang penting yang seharusnya ikut terlibat dan mensponsori, tapi enggan melakukannya.

    Berdasarkan hasil pengamatan saya, demo yang dipentaskan oleh mahasiswa di kampus-kampus itu lebih terkesan asal jadi, spontanitas, dan bersifat sporadis, karena tidak dirancang secara profesional, hingga nilai-nilai entitas seninya tidak tersentuh. Bahkan misi yang disajikannya seringkali menjadi tidak jelas, karena tidak didukung oleh kelengkapan propertinya. Kalaupun misinya jelas, namun masih belum mampu membidik sasaran secara tepat. Padahal, kalau mau digarap secara profesional, demo yang dipentaskan itu tidak saja mampu menarik perhatian kalayak sasaran (penontonnya), tetapi juga mampu menghayutkan perasaan, hingga menimbulkan rasa simpati dan empati bagi penontonnya.

    Baiklah, ada baiknya kritik ini dimulai dari pimpinan produksinya, atau sebut saja penanggungjawabnya. Menurut hemat saya, sebaiknya pimpro (penangggungjawab produksi demo) menyiapkan semacam proposal yang lengkap dengan rincian biayanya, termasuk biaya tak terduga, kalau-kalau terjadi suatu keributan, kecelakaan, atau tindak kekerasan lainnya. Dan proposal itu ada baiknya diketahui atau disetujui oleh pimpinan perguruan tinggi atau pimpinan fakultas, tempat demo diselenggarakan. Syukur-syukur pihak lembaga yang bersangkutan menyediakan dana taktis untuk membiayai pementasan demo tersebut. Kalau tidak, bisa mencari sponsor ke tempat lain. Atau bisa juga mencari sumbangan dengan cara mengedarkan list kepada segenap sivitas akademika di lingkungannya.

    Ini sangat penting, sebab, bagaimanapun juga demo adalah sebuah seni pertunjukan rakyat kampus non komersial yang membutuhkan sejumlah dana. Paling tidak, anggaran realistis yang tak mungkin terelakkan dalam penyelenggaraan demo itu minimal terdiri atas: biaya pembuatan spanduk, poster-poster, tulisan-tulisan; battery untuk mikropon, dan konsumsi. Inipun termasuk kategori pertunjukan yang asal jadi, dan spontanitas sangat rendah.

    Idealnya, sebuah pertunjukan yang suskses perlu dilengkapi dengan tata artistik yang menarik, tata suara dengan sound system yang cukup canggih, agar modulasi suara dapat ditangkap dengan mantap dan menggelegar. Kalau tidak disiapkan sebuah sound system yang canggih, maka suara-suara yang keluar dari mulut para oratornya akan mudah hilang ditelan oleh kebisingan. Juga perlu dihadirkan seperangkat musik baik yang diatonis maupun yang non diatonis guna mendukung penampilannya.

    Pihak skenario, selaku penulis naskah pentas demo perlu memperkaya ide-ide yang aktual, dan penuh kreatif, agar tidak terkesan sebuah pertunjukan yang imitatif dan monoton. Kalau demo yang dipentaskan itu kandungan menunya berskala nasional yang membutuhkan energi pemikiran intelektual, maka perlu didukung oleh para aktor yang tidak saja memiliki kemampuan intelektualnya, tetapi juga mampu bertindak sebagai orator yang ulung. Untuk itu perlu melibatkan para dosen, serta para pimpinan sivitas akademikanya. Bukankah hal ini juga sudah dipraktekkan oleh beberapa perguruan tinggi, yang melibatkan rektornya, dekannya, dosennya, bahkan para guru besarnya, meskipun berperan sebagai pemain pendukung.

    Oleh karena pertunjukan demo ini digelar di kampus, maka pihak penanggungjawab produksi harus mampu menghadirkan orang-orang kunci yang berperan sebagai mediator. Yang dalam hal ini adalah orang-orang dari kalangan DPR. Tanpa kehadiran DPR, misi yang disajikan dalam pertunjukan demo bakalan tidak efektif dan tak berarti. Untuk itu, DPR perlu diundang pada setiap ada kegiatan demo yang digelar di kampus. Sebab, hanya melalui DPR lah misi itu akan dapat tersalurkan pada sasaran yang tepat. Sebaiknya, orang DPR yang diundang itu juga diberi kesempatan bicara untuk memberikan komentarnya agar suasanya lebih komunikatif. Bukankah peran DPR itu tak lebih dari sekedar penyalur aspirasi rakyat. Untuk itu, kita harus mempercayakan kepadanya. Dan untuk menjamin kepercayaan itu, ada baiknya kalau kita sering mengontrolnya. Siapa tahu, aspirasi yang kita percayakan kepadanya hanya ditampung di atas mejanya.

    Sebaliknya, sutradara juga harus mampu mengatur para aktornya agar seni pertunjukannya benar-benar berbobot. Sebab, seringkali pertunjukan demo itu penuh dengan suara hiruk-pikuk yang tak jelas, yang keluar dari mulut para pemainnya tanpa disadari oleh pihak sutradara, hingga terkesan semrawut, dan tak terkoordinasi. Sukses tidaknya sebuah pertunjukan demo itu tergantung pada peran sutradaranya. Karenanya, sang sutradara dituntut memiliki kemampuan untuk mengatur para juru bicaranya, terutama orator kunci yang dianggap mampu mencapai titik klimaksnya sebuah pertunjukan.

    Di samping itu, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu dan lokasi pelaksanaannya. Pengambilan waktu yang tidak tepat bisa mempengaruhi kenikmatan seni pertunjukannya, bahkan bisa mengganggu konsentrasi belajar. Oleh sebab itu, pertunjukan demo yang digelar di kampus hendaknya mempertimbangkan jadwal kuliah mahasiswa, agar proses belajar mengajar para mahasiswa khususnya yang terlibat dalam aksi demo tidak terganggu kuliahnya.

    Pemilihan lokasi juga perlu diperhatikan, baik dari segi strategisnya maupun dari segi kenyamanannya. Bila pertunjukan demo itu digelar di tengah teriknya matahari yang menyengat, tentu saja dapat mempengaruhi daya tahan baik bagi para pelakunya maupun bagi para penontonnya. Dan tidak menutup kemungkinan demo tersebut akan ditinggalkan oleh para penontonnya yang tidak tahan pada teriknya sinar matahari.

    Nah, sekarang, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada saudara-saudara mahasiswa atau siapa saja yang terlibat dalam seni pertunjukan demo di kampus. Pertanyaan, mengapa menu yang disajikan dalam demo di kampus dari kemarin hingga kini masih saja beranjak dari tema-tema yang berskala nasional ? Padahal tema yang berskala nasional itu cukup sulit, rumit, bahkan cenderung kurang efektif, dan efisien. Misalnya: tuntutan reformasi politik dan ekonomi, turunkan Wiranto, turunkan sembako, turunkan ini, turunkan itu, dan lain-lain. Tidakkah itu tema yang amat rumit dan tidak mudah solusinya ? Mampukah mahasiswa menjebol dinding baja sistem birokrasi pemerintah hanya bermodalkan gembar-gembor saja ? Mengapa tidak tertarik pada produk-produk lokal saja, misalnya: memprotes kebijakan pimpinan perguruan tinggi (rektor) atau pimpinan fakultas (dekan) yang dianggap merugikan mahasiswa dalam kegiatan yang dikemas dalam tri dharma perguruan tinggi. Misalnya, untuk mengatasi harga kertas yang melambung tinggi, para mahasiswa bisa berdemo menuntut para dosen agar tidak terlalu berat membebani tugas-tugas yang berhubungan dengan kertas, seperti membuat paper, membeli diktat, dan lain-lain. Atau bisa saja, mahasiswa melalui senatnya menuntut haknya untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan program tri dharma perguruan tinggi, terutama yang menyangkut kehidupan mahasiswanya, apakah itu program kuliah, program KKN, program penelitian, maupun program ekstra lainnya. Bukankah menu sajian ini akan lebih efektif dan efisien dibanding dengan mengambil produk-produk yang berskala nasional ? Atau barangkali, mahasiswa sudah melupakan sebuah peribahasa yang berbunyi sebagai berikut: “Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan nampak”…Wallahu ‘alam bishowaf !

    Bengkulu, 28 April 1998


    * Dipublikasikan di Harian Semarak Bengkulu, 30 April 1998.

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: