Agussetiyanto’s Blog

  • 01:07:59 am on November 2, 2008 | 0
    Tag:,

    Kesadaran Sejarah :

    Antara Harapan dan Kenyataan[1]

    Agus Setiyanto[2]

    Prologoe

    Sejarawan T. Ibrahim Alfian, mengawali pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 12 Agustus 1985, dengan mengambil kalimat singkat dari Ortega, “masa lampau adalah prologue”. Totalitas pengalaman manusia di masa lampau manfaatnya amat berharga dipetik untuk dijadikan bekal menghadapi masa depan yang terentang di hadapan kita (T. Ibrahim Alfian, 1985:3).

    Sepuluh tahun kemudian, sejarawan Taufik Abdullah naik mimbar kehormatan dalam predikat pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 November 1995. “Pengalaman, Kesadaran, dan Sejarah,” itulah topik centralnya. Rasanya tak sanggup kita mencerna bahasa kecerdasannya, dan sudah tentu bahasa kesadaran sejarahnya yang luar biasa – “excellent”.

    “Dan kini, saya ingat juga ucapan Michael Sturner, yang agak keras. “Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan masyarakatnya akan dikuasai oleh mereka yang menentukan isi ingatan, serta yang merumuskan konsep dan menafsirkan masa lampau”, tulisnya (Taufik Abdullah, 1995:35).

    Rupanya, Sartono Kartodirdjo, yang juga disebut sebagai empu nya sejarawan Indonesia pun tak pernah ketinggalan dalam mencermati masalah-masalah yang bersinggungan dengan ilmu sejarah dan kesadaran sejarah. “Maka benarlah ucapan Cicero yang menyatakan, bahwa barang siapa tak kenal sejarahnya, akan tetap menjadi anak kecil” (Sartono, 1992:23).

    Dan jangan lupa, bahwa jauh sebelumnya, orang Yunani Kuno pun sempat mengeluarkan adagiumnya, “Historia Vitae Magistra” (sejarah adalah guru kehidupan).

    Tak hanya itu, Bung Karno juga sempat mengingatkan kita tentang “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Bahkan jauh sebelumnya, tepatnya di depan landsraad, Bandung pada tahun 1930, Bung Karno pernah mengajukan pidato pembelaannya yang mengandung unsur dedaktik dari kesadaran sejarah.

    Andaipun kalimat-kalimat ampuh tersebut kita sepakati, lalu apa yang mesti kita lakukan. Mampukah kita mengatakan, bahwa kesadaran sejarah adalah sebuah titian, dan sekaligus tolak balak dalam menghadapi segala bentuk tantangan – masalah serius yang menghadang perjalanan hidup bangsa Indonesia. Tentu saja kita mampu mengatakannya, tetapi takkan mampu mewujudkannya. Atau barangkali, tepatnya, ini hanyalah sebuah wacana biasa.

    Tetapi sah saja kita mengatakan, bahwa kesadaran sejarah itu amat urgen bagi perjalananan kehidupan umat manusia. Tanpa sebuah kesadaran sejarah, orang tak mampu menangkap manfaat masa lampaunya secara jernih.

    Lalu, bagaimana dengan modernitasnya zaman yang kian mengglobal, menjadikan ajang pertarungan antar budaya yang cenderung sengit, dahsyat, sadis, entah apalagi kata yang pas itu itu. Terlebih pertarungan yang tak seimbang antar produk budaya lokal dengan produk budaya luar (baca: asing) dapat berakibat fatal – teralienasi, tererosi, tersingkir, atau bahkan kemudian geheel op (lenyap) ditelan zaman.

    Jikalau totalitas produk kebudayaan dan sejarah masyarakat itu telah terkubur oleh arus zaman, bagaimana kita dapat menemukan kembali ? atau bahasa sejarahnya “merekonstruksi” entitas (keseluruhan) identitas – jatidiri masyarakatnya. Tentulah tidak segampang mengumpulkan mainan anak kecil yang berserakan di lantai.

    Dan bilamana masyarakat telah kehilangan identitas – jatidirinya, maka sesungguhnya masyarakat tersebut telah mati suri – dengan kata lain, jasadnya ada, tetapi ruhnya terbang melayang. Atau barangkali menurut bahasa Sartono ini cukup pas, yaitu “dekulturasi”. Kata Sartono, “apabila bahaya dekulturasi menjadi sebuah realita, yang ditandai oleh kesimpang-siuran norma-norma, kemerosotan nilai yang terbawa arus modernisasi – maka diperlukan akulturasi – agar dapat membendung erosi kulturalnya” (Sartono, 1982:123).

    Itu semua, bukanlah tugas sejarawan semata. Meski diakuinya, bahwa sejarawan masih terlalu asyik dengan masalah-masalah klise, dan jarang yang sempat mendengar dan merekam suara zaman. Demikian kritikan yang cukup tajam Taufik Abdullah (Taufik Abdullah, 1995:33).

    Lalu, bagaimana dengan tawaran alternatif yang disebut kesadaran sejarah itu sendiri? Sanggupkah, kita menjelaskan bahwa sebuah kesadaran itu biasanya muncul setelah melalui proses pengetahuan, wawasan dan pemahaman. Sebab, tanpa melalui proses pengetahuan, wawasan, dan pemahaman tentang ilmu sejarah, sulit dipercaya untuk dapat memunculkan sebuah kesadaran sejarah. Kalaupun muncul, hanyalah sebatas kesadaran sejarah yang semu.

    Sementara, sejarah itu sendiri go public – milik publik, dan sangat terbuka untuk siapapun. Dengan kata lain, sejarah dapat ditulis oleh siapa saja tanpa harus melalui jenjang akademik ilmu sejarah. Bahkan sering disinggung oleh para sejarawan kita, termasuk T. Ibrahim Alfian. “Rekonstruksi masa lampau tidak hanya dilakukan oleh para sejarawan akademik yang mendapat pendidikan formal dalam ilmu sejarah dengan hasil yang idealnya deskriptif analitik, tetapi juga oleh para sejarawan amatir pada umumnya” (T. Ibrahim Alfian, 1985:10).

    Sayangnya, masih cukup banyak beredar karya-karya sejarah amatir yang belum memenuhi standar penulisan yang sesuai dengan metode penulisan ilmu sejarah. Dikawatirkan terjadi pengaburan antara karya sejarah dengan karya sejarah non/semu sejarah (karya sastra sejarah).

    Terlebih karya historiografi tradisional yang tak lepas bungkus mitos, legenda, hagiografi, simbolisma, dan sejenisnya (Sulastin Sutrisno, 1982:209). Lalu, apa kata Sartono. Dalam historiografi tradisional ada kekuatan religio-magis yang tak ditinjau secara kritis (Sartono, 1982:17). Pendek kata karya sejarah yang non sejarah itu tak lebih dari sekedar kronik. Sejarah dan kronik jelas sangat jauh bedanya.

    “Kronik adalah sejarah yang mati, sedangkan sejarah adalah kronik yang hidup”. “Kronik adalah sejarah masa lampau, sedangkan sejarah adalah sejarah kontemporer”. “kronik cenderung bersumber dari seni keinginan, sedangkan sejarah bersumber dari seni pemikiran”. Semua sejarah yang terlepas dari kehidupan dokumen, tak ubahnya cerita-cerita kosong tanpa kebenaran.” Demikian ketegasan dari Benedetto Croce (Benedetto Croce, 1959:44-57).

    Dengan kesadaran sejarah yang tinggi, kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa lampau dapat dipetik sebagai pelajaran agar tak terulang lagi. Termasuk di dalamnya kesalahan-kesalahan dalam merekonstruksi “history as past actuality” (sejarah sebagai peristiwa masa lampau). Setidaknya, kesalahan-kesalahan sejarawan yang dipaparkan oleh sejarawan Kuntowijoyo secara rinci dapat dijadikan cermin kesadaran sejarah (Kuntowijoyo, 1995: 157-175).

    Kasus Lokal

    Ada seorang kawan dari Museum Negeri Bengkulu telah mencoba menerapkan sebuah strategi untuk mensosialisasikan benda-benda bersejarah kepada masyarakat secara dini. Caranya : (1) mempersiapkan fasilitas ruang pembelajaran dan ruang permainan bagi anak-anak Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dengan mengubah ruangan aula menjadi sebuah kelas. (2) selanjutnya kerjasa sama dengan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia – Bengkulu (IGTKIB) untuk mengundang Sekolah Taman Kanak-Kanak secara bergantian pada setiap minggunya. Bahkan, kemudian jadual pelaksanaannya dikembangkan menjadi tiga kali dalam seminggu.

    Selanjutnya, diselakan oleh petugas museum untuk memberikan informasi tentang benda-benda sejarah kepada anak-anak. Bahkan kemudian, anak-anak bersama-sama dengan orang tuanya diajak masuk ke ruang museum untuk melihat berbagai ragam peninggalan sejarah.

    Bukankah cara tersebut cukup strategis, bahkan mungkin efektif dalam proses enkulturasi (pembudayaan), khususnya proses penyadaran sejarah kepada anak-anak secara dini. Atau barangkali ada sampel kasus lain di tempat lain yang lebih relevan untuk diketengahkan. Yang jelas, kita tidak berani menyakinkan, bahwa pertunjukan ketoprak humor yang ditayangkan setiap malam minggu di RCTI termasuk proses penyadaran sejarah.

    Satu lagi, kasus lokal. Suatu hari, saya diperlihatkan oleh seorang kawan beberapa keping mata uang logam kuno. Setelah saya amati, ternyata mata uang logam itu berasal dari zaman Inggris di Bengkulu dengan logo tulisan “Fort Marlborough”. “Alangkah bijaknya, jika artifak-artifak tersebut dapat disimpan… atau dititipkan di Museum Negeri Bengkulu”, pikir saya. Sebab, benda-benda tersebut adalah sumber sejarah yang berstatus sebagai bahan mentah sejarah Bengkulu. Dan jika dikaji lebih mendalam, bisa jadi benda-benda tersebut dapat menjadi saksi tentang sejarah Bengkulu, baik dalam perspektif sosial ekonomi, sosial politik, maupun sosial budaya.

    Begitu pula dengan benda-benda bersejarah lainnya, seperti meriam yang bertebaran, atau sengaja ditebarkan di beberapa tempat dalam wilayah Bengkulu. Kadang terlintas dalam pikiran saya, “mengapa meriam-meriam itu ada di situ, apakah memang benar asal mula tempatnya di situ ?”.

    Sayang sekali, mereka hanyalah benda masa lampau yang mati, tak punya hak bicara, dan memang tak mampu menyalurkan aspirasi masa lampaunya kepada masa kini. Kecuali overhangen (bergantung) pada nafsu tuan-tuannya,… bak budak belian yang gampang diperjualbelikan, dipermainkan, bahkan mungkin dibuang begitu saja.

    Andaikan para penentu sejarah itu punya rasa tanggungjawab moral terhadap masyarakat masa lampau, pastilah lain ceritanya. Lalu, apa kata Taufik Abdullah, “sejarawan itu punya dua tanggungjawab moral dan akademis, yaitu kepada masyarakat masa lampau yang mewarisi, dan kepada masyarakatnya sendiri”. Tapi, di lapangan, lain ceritanya, sebab sering terganjal oleh para penentu sejarah yang teknokratis (Taufik Abdullah, 1995:35).

    Kalau sudah demikian, bukan saja masyarakat masa lampaunya yang terbuang sejarahnya, sejarawannya pun menjadi korban sejarah. Andaikata jeritan dari suara mereka yang diam itu sampai di telinga generasi masyarakatnya, mungkin para penentu sejarah itu akan sedikit lebih arif. Atau bisa jadi, karena tidak tersedianya fasilitas penyambung hubungan antara masyarakat masa lampau dengan masyarakat generasi berikutnya, maka putuslah sudah hubungannya. Dalam keadaan seperti itu, lebih mudahlah kesempatan untuk memanipulasi sejarah.

    Antara Kenyataan dan Harapan

    Perbincangan mengenai Kesadaran sejarah, setidaknya artikel Soedjatmiko yang berjudul: “Kesadaran Sejarah dan Pembangunan” yang diterbitkan dalam majalah Prisma (Prisma no.7, 1976), dan dalam sebuah buku (Soedjatmoko, 1983: 63-71), masih relevan sebagai bahan referensi masa kini – bahkan cukup menarik untuk terus menerus diwacanakan.

    Secara khusus, Soedjatmoko melihat adanya kecenderungan generasi muda yang instant utopianism – yang dimiripkan dengan harapan-harapan “ratu adil” – “millenarianism”. Selanjutnya, menurut Soedjatmoko, generasi muda masih memandang sejarah dengan sebelah mata. Setidaknya, bisa diamati melalui rendahnya perhatian generasi muda terhadap sejarah, baik sebagai jurusan studi maupun sebagai landasan suatu karir (Soedjatmoko, 1981:69).

    Persoalan penulisan Sejarah Indonesia yang masih terputus-putus, – serta penyajian fakta-fakta sejarah yang harus dihafal, jelas tak merangsang tantangan intelektual, yang mampu menggairahkan generasi muda untuk berkecimpung dalam bidang sejarah. Apalagi jika fakta-fakta sejarah yang disajikan itu tidak disinari oleh usaha-usaha yang relevan dengan keadaan sekarang (Soedjatmoko, 1981:70).

    Lalu, apa kata kuncinya ? Menurutnya, untuk membangkitkan kegairahan dan keterlibatan generasi muda terhadap ilmu sejarah, sistem pembelajaran sejarah harus polanya sebagai suatu avontuur – bukan dengan cara menghafal fakta-fakta, tetapi sebagai riset bersama antara guru dan mahasiswa. Selanjutnya, disarankan agar para ahli sejarah Indonesia mampu melibatkan masyarakat luas dalam hal penelitian sejarah. Sebab, pengumpulan bahan-bahan sejarah sangat tergantung pada kegairahan masyarakat di bidang sejarah, baik nasional maupun lokal. Sejarah adalah urusan kita semua, urusan seluruh bangsa Indonesia, katanya (Soedjatmoko, 1981:70).

    Jika boleh disimpulkan ujungnya, maka urusan kesadaran sejarah adalah urusan kita bersama. Bukan hanya urusan perguruan tinggi, bukan hanya urusan lembaga-lembaga sejarah (seperti Museum, Balai Kajian Sejarah, Dinas Purbakala, Diknas, dan lainnya), maupun sejarawan – dosen – guru -mahasiswa- murid, dan lainnya. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama sinerjis antara pihak-pihak yang terkait dengan melibatkan masyarakat luas.

    Bagaimana juga, sejarawan Sartono tetap optimis dealam kata pendahulannya, “pengetahuan sejarah nasional serta kesadaran sejarah menjadi unsur utama dalam menumbuhkan kesadaran nasional beserta inspirasinya” (Sartono, 1990: x)…. Wallahu ’alam bishshowaf !

    Bengkulu, 10 Mei 2002

    Referensi

    Abdullah, Taufik, 1995. Pengalaman, Kesadaran, dan Sejarah. Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 27 November 1995.

    Alfian, T. Ibrahim, 1985. Sejarah dan Permasalahan Masa Kini. Pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 12 Agustus 1985.

    Croce, Beneditto, 19559. History and Chronicle” dalam Meyer Hoff, The Philosophy of History in our time,: An Anthology Selected, and whit an Introduction and Commentary by Hans Meyerhoff . New York: Doubleday & Company.

    Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif. Jakarta : PT. Gramedia.

    _______________. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

    _______________. 1990. Kebudayaan Pembangunan Dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

    Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

    Soedjatmoko, 1981. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta : LP3ES.

    Sutrisno, Sulastin, 1982. Sastra Dan Historiografi Tradisional. Indonesian Journal of Cultural Studies, Jilid X, no.03. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

    Prisma, no. 7, 1976. Kesadaran Sejarah dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

    Biodata Penulis

    Lahir di Kota Kretek (Kudus) 21 April 1958. Staf pengajar di Fisipol Universitas Bengkulu sejak tahun 1987, golongan IVA, jabatan Lektor Kepala. Jebolan UNDIP Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah (1984), dan UGM program studi Ilmu Sejarah (1996).

    Pengalamannya dalam hal penelitian, tulis menulis, pengabdian, khususnya yang berbau budaya, seni, sejarah, maupun cerita rakyat (legenda) Bengkulu cukup lumayan.

    Pengalaman berorganisasi antara lain : Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Bengkulu; Wakil Ketua Bencoolen Society; Wakil Ketua II Dewan Kesenian Propinsi Bengkulu; Direktur Paguyuban Seni Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa (PASDOKARMA) Universitas Bengkulu; Presiden Komunitas Seniman Bengkulu (KSB); Pembina Sanggar Anak-Anak Kampung “Kleinduimpje” Tengah Padang; Pembina TARI UKM UNIB; Pembina Kesenian Kuda Kepang Desa Panca Mukti Blok VI (Bengkulu Utara); dan Pencetus gagasan “Kantong Seni” Tengah Padang, Bengkulu.

    Selain menulis naskah buku BUSERAH Satu dan BUSERAH Dua (terbitan Lemlit UNIB Press, 2001), serta “ELITE PRIBUMI BENGKULU” (terbitan Balai Pustaka, 2001), juga sedang menggarap naskah buku “Biografi Beberapa Tokoh Pejuang Bengkulu” (dalam proses), “Kumpulan Naskah Panggung Bangsawan Bengkulu” (dalam proses); dan “BUNG KARNO MAESTRO MONTE CARLO” (dalam proses penyelesaian).

    Saat ini sedang mempersiapkan pertunjukan seni Panggung Bangsawan, dengan mengambil salah satu karya Bung Karno, yaitu : Rainbow (Poeteri Kentjana Boelan) untuk tanggal 15 Juni 2002.


    [1] Disampaikan dalam acara diskusi sejarah tanggal 20-21 Mei 2002 di Aula Balai Kajian Sejarah

    dan Nilai Tradisional Padang.

    [2] Staf Pengajar Fisipol Universitas Bengkulu.

    Iklan
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: