Agussetiyanto’s Blog

Keberagaman Budaya Masyarakat Bengkulu Berpotensi Memperkokoh Jatidiri Bangsa

Keberagaman Budaya

Masyarakat Bengkulu Berpotensi Memperkokoh Jatidiri Bangsa*

Catatan Kebudayaan : Selintas Sejarah

Secara geografis, Bengkulu boleh dibilang masuk dalam kategori wilayah periferal. Dan kategori periferal, tidaklah cenderung ekslusif ataupun esoteris. Tetapi dalam perjalanan sejarahnya, Bengkulu justru menjadi ajang pelarian kaum migran dari berbagai etnis, baik etnis domestik (Bugis, Madura, Jawa, Melayu, Minang, Aceh, Bali, Nias dan lain-lain), ataupun etnis manca (Eropa, Afrika, India, Cina, Persia,, Arab dan lain-lain). Dan mereka (para migran) itu berlatar belakang kelas sosial yang bervariatif. Ada yang dari kelas adel (bangsawan), ambtenaar (pegawai), legger (tentara), handelaar (pedagang), hingga slaven (budak).1

Setelah terjadi kontak sosial yang cukup intens dengan masyarakat setempat (baca : masyarakat Bengkulu), benturan sosio-koltural pun tak terelakan. Dan benturan sosio-kultural tersebut telah membawa implikasi proses enkulturasi (pembudayaan) baik secara ekulturatif maupun proses asimilatif dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Bengkulu.

Kontak sosio-kultural yang relatif lama membuka kesempatan membangun koloni (perkampungan atau pemukiman) yang namanya sering didasarkan atas geneologis etnisnya, seperti Kampung Kepiri, Kampung Melayu, Kampung Cina, Kampung Bali, Kampung Aceh, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga nama-nama tempat/wilayah menunjukan identitas etnis seperti Kerkap, Manna, Talo dan lain-lain 2.

Berbagai sebutan/gelar/jabatan seperti Pangeran, kalipa, Daing, Radin, Sultan, Pasirah, Pemangku, Pembarab, Depati, Perowatin, Penghulu, Datuk Syabandar, Puggawa Lima, dan lain-lain, yang pernah populer dalam masyarakat Bengkulu juga menunjukan keragaman corak dari berbagai budaya masyarakat.

Tradisi seperti Bimbang (Gedang dan Kecil), Bimbang Malim, Bimbang Melayu, Bimbang Ulu3, Perkawinan Adat Jujur, Samendo, Tabot, dan pranata-pranata, serta bentuk-bentuk ritual yang lain, juga mewarnai keragaman budaya masyarakat Bengkulu.

Dan tentu saja berbagai ragam bahasa, sastra, kesenian, perumahan, pakaian, peralatan, serta wujud fisik lainnya (Rejang, Pasemah, Lembak, Serawai, Melayu, Muko-muko dan lain-lain)4 pun memiliki kontribusi yang sangat berharga dalam memperkaya identitas budaya masyarakat Bengkulu.

Itulah kiranya yang mewarnai peta budaya masyarakat Bengkulu yang multi kultural dan juga multi etnis, meskipun diakui banyak bagian yang telah sirna ditelan era, ataupun terealisasi di tengah percaturan budaya. Kecuali, kebudayaan yang memiliki kemampuan defensif, akomodatif, serta integratif, itulah yang kemudian terserap menjadi kristal kekuatan budaya yang local genius .

Catatan Kebudayaan II : Sebuah Hipotesis ?

Dalam perspektif kebudayaan, heterogenitas kultural cenderung mapan dalam sebuah masyarakat prularistik. Dan biasanya pula, heterogenitas kultural tersebut bersemi dalam budaya masyarakat yang demokratis. Atau setidak-tidaknya, masyarakat tersebut cukup terbuka unutk menerima unsur-unsur budaya yang datang dari luar baik sebagai sahabat, tetangga dekatnya, atau bahkan kemudian telah menjadi anggota keluarganya setelah melalui asimilasi budaya.

Dan bila heterogenitas kultural ini dapat terpelihara dengan baik, saling menghargai, mendukung, bahkan terintegrasikan dalam nilai-nilai yang lokalnya, maka dapat menghasilkan produk-produk budaya yang local genius . Selanjutnya, bila produk-produk budaya yang local genius ini diberdayakan secara persistensi, maka dapat menjadi bagian dari sebuah identitas/jatidiri budaya bangsa. Tentunya dengan catatan, bahwa produk-produk budaya lokal tersebut didukung oleh masyarakatnya baik secara vertikal maupun horizontal. Dengan bahasa lain, masyarakat tidak sekedar merasa memilki (sense of belonging), tetapi juga merasa bangga (sense of pride) terhadap produk-produk budaya tersebut.

Tetapi inga (t)bahwa jatidiri budaya bangsa bukan kumpulan dari produk budaya lokal. Atau sebaliknya, tidak semua produk budaya lokal merupakan jatidiri budaya bangsa. Bahkan bisa jadi, produk budaya lokal yang cenderung pada ekslusivisme atau chauvisme dapat menjebak pada persoalan desintegrasi budaya bangs. Barang kali kasus Ambon Manise yang berubah jadi Ambon Nangise, merupakan kasus heterogenitas budaya yang terkoyak dan sekaligus ancaman desintegrasi budaya bangsa. Karena sebuah kearifan budaya yang disebut “pella gandong” yang sudah mengakar selama ratusan tahun itu, secara mengejutkan telah tercabik-cabik dalam tempo sekejap.

Catatan Kebudayaan III :

Sebuah Kenyataan dan Harapan

Pembiaran heterogenitas kultural yang bersemi dalam suatu masyarakat potensi menciptakan krisis kebudayaan, karena biasanya terdapat unsur-unsur budaya yang masih bercorak ekslusivisme atau chauvinisme saling berbenturan. Perkumpulan yang bersifat ekslusif kedaerahan yang bertumpu pada rasa kedaerahan semata, tidak menunjang pengintegrasian bangsa, tulis seorang pakar budaya seperti Soerjanto5.

Lalu bagaimanakah heterogenitas budaya pada masyarakat Bengkulu ? Mampukah berperan sebagai wahana dalam upaya memperkokoh jatidiri bangsa ? Barangkali ini hanya sebuah renungan atau pertanyaan biasa yang bisa dijawab dengan beberapa kata. Atau bisa jadi sebuah pekerjaan besar yang perlu dikerjakan bersama.

Sejauh yang bisa diamati, keragaman budaya pada masyarakat Bengkulu yang terus bersemi hingga kini tidak atau belum menampakkan gejala-gejala yang menjurus pada desintegrasi bangsa. Memang ada jenis-jenis budaya (pranata, tradisi maupun kesenian) yang terealisasi di tengah percaturan budaya. Dan itu hal biasa sebagai gejala alamiah.

Namun dengan keragaman budaya tersebut lebih cenderung mengintegrasikan diri dalam nilai-nilai kebersamaan, sepenanggungan, dan seperasaan. Banyak contoh yang bisa dikemukakan baik dari bidang kehidupan. Kemasyarakatan dan kekerabatan (pemukiman yang heterogen, perkawinan antar suku/eksogami), kepranataan (tak mengacu pada putra daerah), kebahasaan (saling menggunakan), kesenian (kreatif) dan lain-lain yang tidak menunjukkan corak eklusivisme. Kalaupun ada berbagai perkumpulan baik atas warna kesukuan, kealmamateran, kelimuan, kesenian, keagamaan, dan lain-lain, umumnya lebih diorientasikan pada pengelolaan kerukuan bersama dan kesejahteraan antar anggotanya tanpa merusak sistem sosio-kulturalnya. Contoh yang menarik, ada sebuah perkumpulan kesenian khas suatu daerah asal Jawa yang disebut Kesenian Kuda Kepang di Curup, yang ternyata anggotanya campuran dari berbagai suku (Jawa, Rejang, dan Batak) …..Wassalam !


* Disampaikan dalam acara “Dialog Kebudayaan”, di Aula Kanwil Diknas Prop. Bengkulu, 30 Oktober 2000.

1 E. Francis, A Commentative Digest of the law of the Natives of the part of the Fort Marlborough and practised in the Court of the Presidency, Afschrift, 1829 (Arsip Nasional RI, no.B:13); L. van der Vinne, Benkoelen zoo als het is, en de Benkoelezen zoo als zij zijn (TNI, Batavia: 1843:558-564).

2 Kerkap berasal dari kata Belanda, “Kerkhof (tempat pekuburan orang-orang Belanda). Sedangkan Manna dan Talo adalah pengaruh bahasa Bugis. Manna, artinya tempat peyimpanan barang-barang pusaka, sedangkan Talo mengingatkan kita pada nama kerajaan Gowa , dan Tallo di Sulawesi Selatan.

3 Sutan Kedir, Oendang-oendang Peratoeran Bimbang Rdja-Radja dan raden-raden jang terpakei dalam rasidensi benkoelen, NADBG, Deel. XIX. ‘s-Gravenhage: Mrtinus-Nijhoff, 1912.

4 Menurut Wuisman, Suku Rejang dan Pasemah banyak memiliki pola persamaannya (Sociale Verandering in Bengkulu: Een Cultuur Sociologische Analyse. Leiden: Foris Publications Holland, 1985:7-9.

5 Soerjanto Poespowardojo, Strategi kebudayaan. Jakarta: Gramedia, 1989: 241-242.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: